Daarus Sa'adah 1 Semua Artikel
KeislamanKepesantrenanUmum

Ketika AI Menjawab Pertanyaan Agama: Mengapa Santri Tetap Membutuhkan Guru ?

Oleh KH. M. Rifqy Aziz Syafe'i · 14 August 2026
Ketika AI Menjawab Pertanyaan Agama: Mengapa Santri Tetap Membutuhkan Guru ?

Ketika AI Menjawab Pertanyaan Agama: Mengapa Santri Tetap Membutuhkan Guru?

Ketika AI Menjawab Pertanyaan Agama

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara manusia mencari informasi. Dahulu, seseorang harus membuka banyak buku, bertanya kepada guru, atau pergi ke perpustakaan untuk menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan. Sekarang, cukup mengetikkan pertanyaan pada chatbot berbasis AI, jawaban dapat muncul dalam hitungan detik.

Termasuk dalam persoalan keagamaan.

Seseorang dapat bertanya tentang hukum suatu perbuatan, makna ayat Al-Qur'an, penjelasan hadis, persoalan fikih, hingga perbedaan pendapat para ulama. AI kemudian memberikan jawaban yang terlihat sistematis, lengkap, dan meyakinkan.

Namun, muncul sebuah pertanyaan penting:

Apakah jawaban yang terdengar meyakinkan selalu merupakan jawaban yang benar?

Di sinilah kita perlu memahami batas antara teknologi sebagai alat bantu memperoleh informasi dan guru atau ulama sebagai pembimbing dalam memahami ilmu agama.

Fenomena ini bukan sekadar kekhawatiran teoritis. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Juli 2026 mengevaluasi enam sistem AI menggunakan 50 pertanyaan keislaman yang mencakup tafsir Al-Qur'an, hadis, fikih, etika, nasihat keagamaan, dan persoalan yang berkaitan dengan perbedaan mazhab. Penelitian tersebut menemukan bahwa AI memiliki manfaat sebagai alat bantu pembelajaran awal, tetapi hasilnya tetap perlu diverifikasi melalui sumber primer dan keahlian ulama yang kompeten.

Dengan kata lain, AI dapat membantu seseorang mencari ilmu, tetapi tidak semestinya menggantikan proses belajar kepada guru.

AI Menjawab Pertanyaan Agama, Tetapi Tidak Menggantikan Guru

AI pada dasarnya merupakan teknologi yang memproses informasi dan menghasilkan respons berdasarkan pola yang dipelajarinya. Kemampuannya untuk menyusun jawaban membuat AI sangat berguna untuk berbagai aktivitas pendidikan dan penelitian.

Namun, ilmu agama memiliki karakteristik yang berbeda.

Dalam tradisi keilmuan Islam, memahami suatu persoalan tidak hanya membutuhkan kemampuan menemukan teks. Dibutuhkan pula pemahaman terhadap konteks, bahasa, kaidah, metodologi, pendapat ulama, serta hubungan antara satu persoalan dengan persoalan lainnya.

Misalnya, seseorang bertanya:

"Bagaimana hukum suatu perbuatan dalam Islam?"

Pertanyaan tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi seorang guru tidak hanya melihat satu potongan dalil. Ia dapat mempertimbangkan sumber dalil, kualitas hadis, konteks permasalahan, kaidah fikih, pendapat para fuqaha, mazhab yang digunakan, kondisi orang yang bertanya, serta kemungkinan adanya pengecualian.

Hal-hal seperti ini membutuhkan metodologi keilmuan, bukan sekadar kemampuan menghasilkan teks.

Karena itu, jawaban AI sebaiknya ditempatkan sebagai informasi awal yang perlu diperiksa, bukan sebagai keputusan final dalam persoalan agama.

Mengapa Santri Tetap Membutuhkan Guru?

Tradisi pesantren memiliki sebuah kekuatan yang tidak dapat direduksi menjadi sekadar transfer informasi.

Santri tidak hanya belajar apa yang harus diketahui, tetapi juga belajar bagaimana ilmu dipahami, diamalkan, dan diwariskan.

Proses belajar melalui guru memberikan ruang untuk bertanya, mengoreksi kesalahan, memahami konteks, dan mendapatkan penjelasan ketika sebuah persoalan tidak sesederhana yang terlihat dalam sebuah teks.

Di pesantren, proses seperti sorogan, bandongan, talaqqi, musyawarah, dan pengkajian kitab membentuk pola belajar yang memungkinkan seorang santri berinteraksi langsung dengan pendidik.

Daarus Sa'adah sendiri mengembangkan pendidikan yang menggabungkan sistem pendidikan formal dengan pendidikan salafiyah. Dalam programnya terdapat Qira'atul Kutub, dengan pembelajaran kitab kuning melalui metode bandongan dan sorogan.

Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak harus dipertentangkan dengan tradisi pesantren.

Justru keduanya dapat ditempatkan pada fungsi yang berbeda.

Teknologi membantu memperluas akses informasi. Guru membantu membentuk pemahaman dan cara menggunakan ilmu.

AI Boleh Digunakan, Tetapi Harus Disikapi dengan Kritis

Menggunakan AI bukan berarti sesuatu yang harus ditolak oleh santri.

Sebaliknya, santri dapat memanfaatkan teknologi secara produktif selama memahami batas penggunaannya.

AI misalnya dapat digunakan untuk:

Namun, ketika masuk pada persoalan fatwa, hukum fikih, tafsir, hadis, akidah, atau persoalan keagamaan yang membutuhkan ketelitian, jawaban AI tidak boleh diterima begitu saja.

Sebuah penelitian lain pada 2026 tentang kemampuan Large Language Models dalam menjawab persoalan hukum Islam juga menekankan pentingnya verifikasi oleh ahli dan menunjukkan bahwa sistem AI dapat mengalami kesalahan maupun menerima premis pertanyaan yang keliru.

Maka prinsip yang baik adalah:

Gunakan AI untuk membantu mencari dan memahami informasi, tetapi gunakan sumber yang terpercaya dan guru yang kompeten untuk memastikan kebenarannya.

Pentingnya Sanad dan Otoritas Keilmuan

Dalam tradisi keilmuan Islam, hubungan antara guru dan murid memiliki posisi yang sangat penting.

Ilmu tidak hanya dipandang sebagai kumpulan informasi yang dapat dipindahkan dari satu perangkat ke perangkat lainnya. Ada proses pembelajaran, pemahaman, pengamalan, koreksi, dan pewarisan keilmuan.

Karena itu, keberadaan guru bukan sekadar sebagai "mesin pencari" yang dapat memberikan jawaban ketika santri bertanya.

Guru juga berperan dalam membentuk adab, karakter, cara berpikir, dan sikap terhadap ilmu.

Seorang santri mungkin dapat menemukan teks kitab melalui internet dalam beberapa detik. Namun menemukan teks tidak otomatis berarti memahami maksud pengarangnya.

Begitu pula mengetahui sebuah pendapat tidak otomatis berarti memahami kapan pendapat tersebut dapat diterapkan.

Di sinilah pentingnya bimbingan orang yang memiliki kompetensi keilmuan.

Pesantren di Tengah Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi seharusnya tidak membuat pesantren kehilangan identitasnya.

Sebaliknya, pesantren dapat memanfaatkan teknologi untuk memperkuat pendidikan tanpa meninggalkan tradisi keilmuan yang telah diwariskan para ulama.

Visi Daarus Sa'adah sendiri menekankan pembentukan insan yang bertaqwa, berilmu, beramal ilmiah, dan berakhlakul karimah. Selain itu, salah satu misi pendidikan Daarus Sa'adah adalah mengembangkan inovasi pembelajaran sesuai tuntutan agama dan negara.

Prinsip tersebut menjadi semakin relevan di era AI.

Santri tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Santri perlu menjadi pengguna teknologi yang berilmu, kritis, beradab, dan bertanggung jawab.

Teknologi boleh berkembang sangat cepat. Tetapi kemampuan membedakan antara informasi yang benar dan keliru harus berkembang lebih cepat.

Cara Santri Memverifikasi Jawaban AI

Ketika mendapatkan jawaban agama dari AI, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.

1. Jangan langsung percaya

Jawaban yang panjang, rapi, dan menggunakan istilah Arab belum tentu benar.

AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan meskipun terdapat kesalahan di dalamnya.

2. Periksa sumbernya

Jika AI menyebut ayat, hadis, kitab, atau pendapat ulama, periksa kembali sumber tersebut.

Jangan puas hanya karena AI mencantumkan nama kitab atau nama seorang ulama.

3. Bandingkan dengan kitab atau sumber terpercaya

Untuk persoalan keislaman, gunakan sumber primer dan literatur yang memiliki otoritas.

4. Tanyakan kepada guru

Jika persoalannya berkaitan dengan hukum, fikih, akidah, ibadah, atau masalah yang memiliki konsekuensi penting, konsultasikan kepada guru atau ustaz yang memiliki kompetensi.

5. Pahami adanya perbedaan pendapat

Tidak semua persoalan fikih memiliki satu jawaban yang seragam.

Perbedaan pendapat di antara ulama memiliki sejarah, metodologi, dan argumentasi yang perlu dipahami dengan ilmu dan adab.

Menjadi Santri yang Melek Teknologi dan Tetap Beradab

Tantangan pendidikan Islam pada masa sekarang bukan hanya bagaimana membuat santri mampu menggunakan teknologi.

Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membuat santri mampu mengendalikan penggunaan teknologi dengan ilmu dan akhlak.

Santri yang memiliki akses kepada AI tetapi tidak memiliki kemampuan berpikir kritis dapat dengan mudah menerima informasi yang salah.

Sebaliknya, santri yang memiliki dasar keilmuan yang kuat dapat menjadikan AI sebagai alat bantu untuk memperluas wawasan tanpa kehilangan pegangan.

Inilah salah satu alasan mengapa pendidikan pesantren tetap memiliki relevansi di tengah perkembangan teknologi.

Daarus Sa'adah memiliki sejarah pendidikan yang memadukan pendidikan formal dan salafiyah serta menanamkan nilai Islam Rahmatan lil 'Alamin dengan landasan Ahlussunnah wal Jama'ah.

Teknologi dapat berubah.

Aplikasi dapat berubah.

Model AI dapat berubah.

Tetapi prinsip mencari ilmu dengan benar, menghormati guru, memeriksa sumber, dan mengamalkan ilmu dengan akhlak tetap menjadi bagian penting dari pendidikan seorang santri.

Kesimpulan

AI menjawab pertanyaan agama dengan cepat, tetapi kecepatan bukanlah ukuran kebenaran.

AI dapat menjadi alat bantu belajar yang sangat berguna, tetapi ia tidak semestinya diposisikan sebagai pengganti guru dan ulama. Terlebih dalam persoalan yang membutuhkan pemahaman mendalam terhadap Al-Qur'an, hadis, fikih, mazhab, dan konteks kehidupan manusia.

Karena itu, sikap yang tepat bukanlah menolak teknologi dan bukan pula menyerahkan seluruh proses belajar kepada teknologi.

Sikap yang tepat adalah memanfaatkan teknologi dengan ilmu, melakukan verifikasi dengan sumber terpercaya, dan tetap belajar kepada guru yang kompeten.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mendapatkan jawaban.

Pendidikan juga tentang bagaimana seseorang mengetahui kebenaran, memahami ilmu, menghormati guru, dan mengamalkan pengetahuan tersebut dengan akhlak yang baik.

Untuk mengenal lebih jauh pendidikan dan program yang dikembangkan oleh Pondok Pesantren Daarus Sa'adah, silakan kunjungi Beranda Daarus Sa'adah. Informasi mengenai Visi dan Misi Daarus Sa'adah juga dapat menjadi rujukan untuk memahami arah pendidikan yang dikembangkan di lingkungan pesantren.

Sumber rujukan:

Bagikan:
Artikel Sebelumnya
Mabadi Asyarah Ulumul Quran: Panduan Lengkap
Artikel Selanjutnya
Santri di Era AI: Menguasai Teknologi Tanpa Kehilangan Adab dan Tradisi Keilmuan