Santri di Era AI: Menguasai Teknologi Tanpa Kehilangan Adab dan Tradisi Keilmuan
Santri di Era AI: Menguasai Teknologi Tanpa Kehilangan Adab dan Tradisi Keilmuan
Santri di Era AI dan Perubahan Dunia Pendidikan
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Teknologi ini digunakan untuk mencari informasi, menerjemahkan bahasa, membuat tulisan, menganalisis data, membantu pekerjaan, bahkan mendukung proses belajar.
Perubahan tersebut juga membawa pertanyaan penting bagi dunia pesantren:
Bagaimana seharusnya santri di era AI menghadapi perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya?
Pertanyaan ini semakin relevan karena teknologi pendidikan berkembang dengan sangat cepat. UNESCO mencatat bahwa perkembangan AI generatif sedang mengubah cara manusia belajar dan mengajar, sekaligus menghadirkan persoalan baru terkait etika, keamanan, privasi, kesenjangan akses, dan kualitas pembelajaran.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah santri boleh menggunakan AI atau tidak.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah santri memiliki ilmu, adab, dan kemampuan berpikir kritis untuk menggunakan teknologi tersebut dengan benar?
Pesantren tidak harus menjadi lembaga yang tertinggal karena mempertahankan tradisi. Sebaliknya, pesantren dapat menjadi tempat pendidikan yang mampu mempertemukan warisan keilmuan Islam dengan perkembangan teknologi modern.
Mengapa Santri Perlu Mengenal Teknologi AI?
Teknologi bukan lagi sesuatu yang hanya digunakan oleh orang yang bekerja di bidang komputer.
AI telah masuk ke berbagai bidang kehidupan. Dunia pendidikan, bisnis, kesehatan, pemerintahan, media, penelitian, dan industri semuanya mulai merasakan pengaruhnya.
Karena itu, generasi muda yang tidak memahami teknologi berpotensi mengalami kesenjangan kompetensi ketika memasuki dunia masyarakat dan pekerjaan.
UNESCO melalui AI Competency Framework for Students menempatkan kemampuan AI bukan hanya sebagai kemampuan teknis. Kerangka tersebut mencakup empat dimensi, yaitu human-centred mindset, ethics of AI, AI techniques and applications, serta AI system design.
Artinya, kemampuan menggunakan AI tidak cukup hanya dengan mengetahui cara memberikan perintah kepada chatbot.
Pelajar juga perlu memahami:
- bagaimana AI bekerja secara umum;
- kapan AI boleh digunakan;
- bagaimana memeriksa kebenaran informasi;
- bagaimana menjaga privasi;
- bagaimana menghindari penyalahgunaan teknologi;
- bagaimana mempertahankan tanggung jawab manusia atas keputusan yang dibuat.
Hal ini sangat relevan bagi pendidikan pesantren.
Santri perlu menjadi generasi yang melek teknologi sekaligus melek nilai.
Santri di Era AI Tetap Membutuhkan Adab
Ada satu hal yang tidak dapat diberikan oleh teknologi secara otomatis: adab.
AI dapat membantu menjelaskan sebuah istilah. AI dapat membantu menerjemahkan bahasa Arab. AI dapat membuat ringkasan. AI bahkan dapat membantu seseorang mencari berbagai pendapat mengenai sebuah persoalan.
Tetapi AI tidak otomatis menjadikan seseorang memiliki sikap tawadhu, sabar, disiplin, hormat kepada guru, bertanggung jawab, dan mampu menempatkan ilmu secara tepat.
Padahal, pendidikan pesantren tidak berhenti pada transfer pengetahuan.
Santri belajar bagaimana bersikap kepada guru, bagaimana menghormati ilmu, bagaimana menjaga hubungan dengan sesama, bagaimana mengendalikan diri, dan bagaimana mengamalkan ilmu dalam kehidupan.
Kementerian Agama juga menyoroti pentingnya adab generasi muda dalam menghadapi arus informasi dan perkembangan teknologi. Dalam kegiatan pembinaan keagamaan pada 2026, Kemenag menekankan bahwa adab merupakan fondasi penting agar generasi muda mampu menghadapi modernitas tanpa meninggalkan nilai agama.
Dengan demikian, semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin penting pula pendidikan karakter dan adab.
Teknologi Boleh Berkembang, Tradisi Keilmuan Jangan Ditinggalkan
Salah satu kekuatan pesantren terletak pada tradisi pembelajaran yang berlangsung secara langsung antara guru dan santri.
Santri membaca kitab, mendengarkan penjelasan guru, bertanya, berdiskusi, mengulang pelajaran, dan mendapatkan koreksi.
Dalam proses tersebut terdapat interaksi manusia yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.
UNESCO sendiri menekankan bahwa meskipun AI dapat memperkuat pendidikan, aspek relasional dan sosial dalam hubungan guru dan peserta didik serta nilai dari bentuk pendidikan tradisional tetap penting.
Hal ini sejalan dengan karakter pendidikan di Daarus Sa'adah.
Di Beranda Pondok Pesantren Daarus Sa'adah, salah satu program pendidikan yang ditampilkan adalah Qira'atul Kutub, yaitu pelatihan membaca kitab kuning dengan metode bandongan dan sorogan. Selain itu terdapat program Tahfidz Al-Qur'an, bahasa Arab dan Inggris, kepemimpinan, serta public speaking.
Tradisi seperti ini justru menjadi semakin penting di tengah banjir informasi.
Ketika informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, santri membutuhkan kemampuan untuk menentukan informasi mana yang layak dipercaya, bagaimana memahaminya, dan bagaimana mengamalkannya.
AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Guru
Kesalahan yang sering terjadi dalam memahami AI adalah menganggap teknologi sebagai pengganti manusia.
Padahal, penggunaan yang lebih tepat adalah menjadikan AI sebagai alat bantu.
Misalnya, seorang santri sedang mempelajari kitab dan menemukan istilah bahasa Arab yang belum dipahami. AI dapat digunakan untuk mendapatkan penjelasan awal mengenai arti kata tersebut.
Santri juga dapat menggunakan AI untuk:
- mencari definisi istilah;
- membantu menerjemahkan teks;
- membuat daftar pertanyaan untuk bahan diskusi;
- merangkum materi setelah memahami materi tersebut;
- membantu mencari referensi;
- membuat latihan soal;
- membantu mengembangkan ide tulisan.
Tetapi ketika hasil AI menyangkut persoalan yang membutuhkan otoritas keilmuan, hasil tersebut harus diverifikasi.
Misalnya dalam persoalan:
- fikih;
- akidah;
- tafsir;
- hadis;
- sejarah Islam;
- persoalan khilafiyah;
- hukum suatu ibadah;
- atau persoalan keagamaan yang berkaitan langsung dengan kondisi seseorang.
Dalam kondisi tersebut, guru tetap memiliki posisi penting.
AI dapat memberikan informasi.
Guru membantu membentuk pemahaman.
Jangan Sampai AI Membuat Santri Malas Berpikir
Ada tantangan lain yang tidak kalah penting.
AI dapat membuat pekerjaan menjadi jauh lebih mudah. Namun kemudahan tersebut dapat berubah menjadi masalah apabila seseorang menjadi terlalu bergantung kepadanya.
Misalnya, seorang santri mendapatkan tugas membuat tulisan. Alih-alih membaca, memahami, berdiskusi, lalu menyusun gagasan sendiri, ia langsung meminta AI membuat seluruh tugas.
Tugas memang selesai.
Tetapi proses belajar tidak terjadi secara optimal.
Inilah sebabnya UNESCO menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia dalam penggunaan AI untuk pendidikan. AI seharusnya mendukung proses belajar, bukan mengurangi kemampuan kognitif peserta didik atau menghilangkan tanggung jawab manusia.
Santri harus tetap membaca.
Santri harus tetap menulis.
Santri harus tetap berdiskusi.
Santri harus tetap menghafal.
Santri harus tetap bertanya kepada guru.
AI seharusnya membantu proses tersebut, bukan menggantikannya.
Dari Konsumen Teknologi Menjadi Pengguna yang Bertanggung Jawab
Santri di era digital juga perlu memiliki kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang positif.
Kementerian Agama pada 2026 bahkan mendorong santri agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi produsen konten positif yang edukatif, moderat, dan berlandaskan nilai keislaman serta kebangsaan.
Ini membuka peluang yang sangat besar.
Santri dapat memanfaatkan teknologi untuk:
- membuat artikel keislaman;
- membuat video edukasi;
- membuat konten dakwah;
- mendokumentasikan kegiatan pesantren;
- membuat desain;
- memproduksi podcast;
- melakukan penelitian;
- membuat media pembelajaran;
- mengembangkan keterampilan digital.
Namun semua itu harus tetap memiliki landasan.
Teknologi yang hebat membutuhkan pengguna yang bertanggung jawab.
Seorang santri tidak cukup bertanya, "Apa yang bisa saya buat dengan AI?"
Ia juga perlu bertanya:
"Untuk apa teknologi ini saya gunakan?"
Tradisi Pesantren dan Teknologi Dapat Berjalan Bersama
Pesantren tidak harus memilih antara kitab kuning atau teknologi.
Tidak harus memilih antara sorogan atau AI.
Tidak harus memilih antara tradisi atau inovasi.
Keduanya dapat berjalan bersama selama ditempatkan pada fungsi yang tepat.
Kitab tetap menjadi sumber pembelajaran.
Guru tetap menjadi pembimbing.
Santri tetap menjadi pelajar.
Teknologi menjadi alat bantu.
Prinsip ini sejalan dengan arah pendidikan Daarus Sa'adah yang tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menekankan inovasi pembelajaran sesuai tuntutan agama dan negara. Dalam visi dan misinya, Daarus Sa'adah juga menekankan pengembangan sumber daya manusia yang produktif, kreatif, inovatif, serta tetap berakhlakul karimah.
Bahkan sejarah Daarus Sa'adah menunjukkan adanya perpaduan antara pendidikan formal modern dan pendidikan salafiyah.
Dengan demikian, keterbukaan terhadap teknologi bukan sesuatu yang bertentangan dengan karakter pesantren selama teknologi tersebut digunakan untuk kemaslahatan dan tidak menghilangkan nilai dasar pendidikan.
Lima Prinsip Santri dalam Menggunakan AI
Agar penggunaan teknologi tetap sehat, santri dapat memegang lima prinsip sederhana.
1. Gunakan AI sebagai alat bantu
Jangan menjadikan AI sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
2. Tetap membaca sumber asli
Jika AI memberikan rujukan kitab, ayat, hadis, atau pendapat ulama, periksa kembali sumber tersebut.
3. Jangan tinggalkan guru
Untuk persoalan yang membutuhkan penjelasan mendalam, konsultasikan kepada guru atau ustaz yang kompeten.
4. Jangan serahkan seluruh proses berpikir kepada AI
Gunakan AI untuk membantu berpikir, bukan untuk berhenti berpikir.
5. Gunakan teknologi untuk kemaslahatan
Teknologi seharusnya menjadi sarana untuk belajar, berkarya, berdakwah, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Masa Depan Pesantren Bukan Anti-Teknologi
Perubahan zaman tidak pernah berhenti.
Dulu pesantren beradaptasi dengan mesin cetak, kemudian komputer, internet, dan berbagai perangkat digital. Sekarang tantangannya adalah kecerdasan buatan.
Pesantren tidak perlu kehilangan identitas hanya karena teknologi berubah.
Justru pesantren memiliki kesempatan untuk memberikan sesuatu yang sangat dibutuhkan di era AI: manusia yang berilmu, berakhlak, kritis, dan memiliki tanggung jawab moral.
Kemenag Aceh pada Juli 2026 menegaskan pentingnya pesantren menjadi adaptif terhadap perkembangan digital namun tetap berakar pada tradisi.
Inilah arah yang relevan bagi pendidikan pesantren.
Bukan menjadi lembaga yang menolak teknologi.
Bukan pula menjadi lembaga yang menyerahkan pendidikan kepada teknologi.
Tetapi menjadi lembaga yang mengajarkan manusia bagaimana menggunakan teknologi dengan benar.
Penutup: Menjadi Santri yang Menguasai Zaman
Santri di era AI menghadapi dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Informasi semakin mudah diperoleh.
Teknologi semakin canggih.
Pekerjaan semakin berubah.
Kemampuan digital semakin dibutuhkan.
Namun di tengah semua perubahan tersebut, seorang santri tetap membutuhkan sesuatu yang tidak boleh hilang: ilmu, adab, guru, dan nilai-nilai agama.
AI dapat membantu santri memahami dunia.
Tetapi ilmu dan adab membantu santri menentukan bagaimana seharusnya hidup di dalamnya.
Karena itu, masa depan pesantren bukan tentang memilih antara tradisi dan teknologi.
Masa depan pesantren adalah tentang menguasai teknologi tanpa kehilangan jati diri.
Santri yang ideal bukan santri yang takut terhadap teknologi.
Dan bukan pula santri yang bergantung sepenuhnya kepada teknologi.
Santri yang ideal adalah santri yang mampu menggunakan teknologi dengan cerdas, memeriksa informasi dengan kritis, menghormati guru, menjaga adab, memahami tradisi keilmuan, dan menggunakan pengetahuannya untuk memberikan manfaat.
Untuk mengenal lebih jauh pendidikan dan lingkungan pembelajaran di Pondok Pesantren Daarus Sa'adah, Anda dapat mengunjungi halaman utama pesantren. Informasi mengenai Visi dan Misi Daarus Sa'adah juga dapat menjadi rujukan untuk memahami nilai dan arah pendidikan yang dikembangkan.